Spin Sugar Top Ten Vinyl Records #001 – Dimas Dhyara

Dimas Dhyara

Dimas Dhyara, lahir di Bali dan semasa remaja hidup di Yogyakarta, Indonesia sembari melanjutkan studinya. Menggemari musik sedari belia, Dimas turut ambila bagian memajukan pergerakan musik alternatif di Yogyakarta antara tahun 2011-2014, termasuk mengelola proyek dan pemanggungan seni berbasis komunitas seperti Common People dan Indiepop Rising Club Jogja. Pada tahun 2011, ia berpartisipasi dalam Outerbeatm sebuah gelaran seni alternatif-mingguan pada gelombang siar Eltira Radio. Sepanjang 2011-2014, Dimas turut mendirikan acara Japanese Whispers sebagai medium bagi band-band indie dari Jepang yang tur ke Yogykarta, dan Totalfeedback yang memanggungkan kegairahan artis dan band indierock, postpunk, 90s dan shogaze. Kini, menetap di Bali, Dimas dengan moniker Sobersides terus meluaskan musik bernuansa eclectic dalam DJ-setnya bersama SPIN SUGAR.


Sedari dulu saya sudah memprediksi jika takdir saya dalam menjalani hidup ini salah satunya adalah berkenalan dengan media piringan hitam. Media ini seakan-akan menjadi identitas diri saya karena partisipasi saya dalam sebuah seminal kolektif bernama Spin Sugar | Play Vinyl + Share Story.

Maka lewat postingan ini, izinkan saya untuk sharing Top 10 album vinyl records yang saya koleksi saat ini. Belakangan saya sedang menggandrungi sound era boogie (kadang disebut post-disco) yang berkembang antara tahun 1979-1986. Jadi sebagian besar list disini bakal banyak diisi oleh artis pada era tersebut, namun tidak menutup kemungkinan di luar era ini juga sih.

1. Passage – Self Titled
Band yang diprakasai oleh Louis Johnson, seorang bassist ulung yang merupakan ex-member grup The Brothers Johnson. Selain itu Louis Johnson juga yang mengisi bass di album Thriller milik Michael Jackson. Wow, album funk ini bertema gospel (di Indonesia lazim disebut religi) yang sangat dijarang ditemukan oleh band bergenre ini pada masanya. Di bagian instrumentalia, tiap lagu berasa seperti dituntun oleh alunan bass yang cukup dominan. Tak salah Louis Johnson dianggap salah satu pemain bass terkemuka sepanjang masa oleh majalah “Bass Player.”

Track: Passage – I See the Light

2. First Love – Love at First Sight
Berasal dari Chicago, trio garapan dari produser Donald Burnside ini memiliki kualitas yang sangat solid baik sisi vokal dan isian synthesizers yang sangat gemilang. Album yang terbilang cukup overlooked di era post-disco. Bahkan Spotify tidak menyediakan servis streamingnya untuk album ini.

Track: First Love – It’s A Mystery To Me

3. Alton McClain & Destiny – It Must Be Love
Ungkapan jika kamu tak perlu tahu lagunya asalkan terdengar catchy di telinga mungkin cocok dialamatkan pada rilisan ini. Nama Alton McClain & Destiny bisa jadi terdengar asing bagi sebagian orang namun jika track It Must Be love dikumandangkan, acap kali bakal membuat dancefloor penuh orang berboogie-dance ria.

Track: Alton McClain & Destiny – It Must Be Love

4. Shalamar – Friends
Tak lain tak bukan karena track A Night to Remember adalah perkenalan saya untuk mendalami sound funk/disco secara intense. Berada di bawah naungan Solar Records, Shalamar di tahun 70an-80an berada di jajaran group sukses pada eranya. Klasik album yang masih relevan didengar sampai sekarang.

Track: Shalamar – A Night to Remember

5. Nayobe – Self Titled
Nayobe Catalina Gomez berasal dari background Afro Cuban dan dianggap sebagai penyanyi pertama yang bisa mempopulerkan nuansa latin hip hop atau freestlye yang dikemas secara apik pada masanya. Banyak track yang bagus di album ini namun Second Change for Love adalah track yang paling favorit menurut saya.

Track: Nayobe – Second Chance For Love

6. Prince – Self Titled
Mustahil rasanya jika saya tidak memasukan Prince dalam list ini. Sebagai artis yang paling berpengaruh abad ini bahkan ketika dia sudah tiada pun, masih banyak orang yang merasakan aura kehebatannya lewat karya-karyanya. Secara spesifik saya memilih album ini karena album ini seperti membentuk standar kualitas album terbaik yang untuk selanjutnya dijadikan patokan artis dan produser untuk merilis album mereka sendiri. Sungguh sangat inspiratif dan visioner.

Track: Prince – I Wanna Be Your Lover

7. VA – Napoli Segreta Vol. I
Kali ini kita terbang jauh menuju benua Eropa di area Naples, Italy. Di era 70an-80an racun funk/disco ikut mewabah di kota ini namun tentu saja dengan ciri khas mereka sendiri. Rupanya di Italy, ongkos impor rilisan funk/disco dari USA waktu itu tergolong mahal, jadi mereka inisiatif menjadi produser di negara mereka sendiri. Dirilis oleh Early Sound Recordings, kompilasi ini layak untuk dikoleksi sebagai saksi sejarah perkembangan funk/disko di Naples, Italy.

Track: Mario D’Episcopo – I’ve Got The Music of Your Love

8. Adrian Gurvitz – Il Assassino
Di era dimana terjadi gap antara fans musik rock dan disco, dengan adanya disco demolition night tahun 1979, album ini seperti menjadi mediasi untuk meredam ketegangan itu. Musik rock terasa sangat kental berada di album ini lewat isian gitar Adrian dan komposisinya yang sangat apik. Namun di sisi lain, terdapat track disco di lagu She’s in Command dan Heat yang menjadikan album ini layak dijadikan opsi perdamaian bagi perseteruan antara rock dan disco.

Track: Adrian Gurvitz – Heat

9. Ramsey Lewis – Don’t It Feel Good
Dari sekian banyak album Ramsey Lewis, seorang maestro jazz, entah kenapa favorit saya jatuh ke album ini. Walaupun album ini seperti dibayangi ketenaran Sun Goddess, album yang dirilis Ramsey setahun sebelumnya. Tapi tetap saja album ini menurut saya album ter-funky Ramsey Lewis. Dia berhasil mencomblangkan jazz dan funk, dan terbukti kisah cintanya masih awet sampai sekarang.

Track: Ramsey Lewis – What’s The Name Of This Funk

10. Randy Brown – Randy
Ga selamanya musik funk/disco identik dengan lantai dansa. Ada kalanya musik ini dinikmati di waktu pagi hari di kala bersantai di rumah. Mengambil roots dari musik soul yang berkembang di era 70an. Randy Brown dengan lagu-lagu balladsnya sebut saja Tomorrow, We Ought To Be Doing It atau If I Don’t Love You yang bisa membuat galau jika didengarkan.

Track: Randy Brown – If I Don’t Love You


Berikut daftar putar (playlist) seluruh lagu dari Spin Sugar Top Ten Vinyl Records #001 – Dimas Dhyara. Dance, boogie all night long!


Kolom Spin Sugar Top Ten Vinyl Records dikelola oleh Marlowe Bandem, dan setiap minggunya mengundang seorang pecinta musik untuk memamerkan koleksinya, sekaligus mengungkap kisah di balik rilisan tersebut.

Email Top Ten Vinyl Records-mu ke marlowe(at)marlowebandem.com atau kontak kami melalui kolom kontak bila ingin bersua, berbincang dan berbagi langsung dengan kami. Anda siapkan birnya, kami bawa kacangnya 😀

Classic Indonesian Psych & Funk Mix by SunDee

Classic Indonesian Psych & Funk Mix by SunDee (33:04 minutes)

1. Benjamin Sueb – Koboy Ngungsi
2. Madesya – Sendiri
3. Broery Marantika – Di Alam Lepas
4. Benjamin Sueb – Mama Minta Makan Ma
5. Margie Segers – Sifat Manusia
6. Daddy Dores & Jackson Band – Ganja
7. Elvy Sukaesih – Asooi Sampai Pagi
8. Ira Maya Sopha – Buah Manggis
9. Two Faces – Sendiri
10. Philosophy Gang – Don’t Talk About Freedom

SunDee aka Sandi Kalifadani was born in Yogyakarta, Indonesia. Sandi is a musician, records collector and artist who persistently experiments on numerous media. His background is industrial engineering and he has a keen interest in sound processing, sound therapy, soundscape, instrument building, music video and collaboration between science and art. He initiated Folk Afternoon and Walk The Folk, participatory music projects which bring together people from different backgrounds in the spirit of exchange and eliminate the boundary between stage and audience. He is also a member of Gemati, a project that addresses the issue of Javanese sociocultural phenomenon using various medium of sound experiments, poetry and visual art. Currently he also works as a yoga teacher.

SPIN SUGAR REACHES #50

FREE EVENT!

We are celebrating our 50th edition of SPIN SUGAR | Play Vinyl + Share Story collaborating with Antida Music and the Vidijee collective on Wednesday, 29 August 2018 at Antida Soundgarden, Jalan Waribang No. 32 Kesiman from 18.30 WITA.

There will be sterling performances by Sobersides (downtempo), Sun Dee (city pop-disco-funk), Westside.Muzeeq (70’a funk & disco rarities), Aix Snel (progressive), KRBL (techno-house) and Marlowe Bandem + Nomad Dex (techno and obscure sounds).

Live mural painting by Easy Tiger x Masgaga and Swoofone in addition to visual installation by Apemotion and Ridwan R. Live recording and streaming by Antida Darsana.

SPIN SUGAR #50

SPIN SUGAR SQUAD: Sobersides and SunDee

We are proud to introduce two connoisseur of grooves, namely Sobersides and SunDee who have been pushing SPIN SUGAR to new levels of enjoyment.

SPIN SUGAR SQUAD | Sobersides – SunDee

Sobersides aka Dimas Dhyara was born in Bali, and during his teens resided to Yogyakarta, Indonesia for his studies.  Embracing and loving music since young, Dimas took part in many side-stream music movements around Yogyakarta circa 2011-2014, including managing community art projects and gigs such as Common People and Indiepop Rising Club Jogja. In 2011, he participated in Outerbeat, a weekly indie/alt music show on the waves of Eltira Radio. During 2011-2014, he established seminal gigs titled Japanese Whispers  as a medium for indie Japanese bands touring Yogyakarta, and DIY gigs titled Totalfeedback, showcasing the might of indierock, postpunk, 90s, shoegaze artists and bands.  Currently living in Bali, he frequents SPIN SUGAR as Sobersides, playing mesmerising eclectic sets every time behind the decks.

Meanwhile, SunDee aka Sandi Kalifadani was born in Yogyakarta, Indonesia. Sandi is a musician, records collector and artist who persistently experiments on numerous media. His background is industrial engineering and he has a keen interest in sound processing, sound therapy, soundscape, instrument building, music video and collaboration between science and art. He initiated Folk Afternoon and Walk The Folk, participatory music projects which bring together people from different backgrounds in the spirit of exchange and eliminate the boundary between stage and audience. He is also a member of Gemati, a project that addresses the issue of Javanese sociocultural phenomenon using various medium of sound experiments, poetry and visual art. Currently he also works as a yoga teacher.

Check out their mixtapes in the near future. Play vinyl and share story, always!

Did You Know #2

Beka Records: Miss Riboet

Tahukah kamu?

Label rekaman Jerman bernama Beka-Record GmbH hadir di Indonesia (dahulu: Hindia Belanda) pada tahun 1906. Salah seorang pendirinya yang bernama Henry Bumb tiba di Batavia pada 16 Januari 1906 ditemani dua ahli rekaman bernama Willy Bielefeld dan Willy Hadert. 

Berselang dua hari mereka berhasil merekam banyak materi yang kemudian dirilis sebagai 32 sisi piringan hitam untuk gramofon. Setelah Perang Dunia I, Beka kembali meluaskan cakupannya ke Nusantara merekam kroncong dan gamelan termasuk kehebatan penyanyi pribumi terkenal Miss Riboet ‘Miss Noisy’. 

Dalam kurun waktu setahun (1926-27), Beka merekam 122 lagu oleh Miss Riboet, dan di tahun 1928, Beka tiba di Bali dan merekam banyak tabuh dan gending Bali dibantu Ida Boda (maestro tari dari Kaliungu Denpasar) dan Walter Spies (perupa ternama Jerman yang menetap di Bali sejak tahun 1927). 

Baca lebih lanjut Music and Media in the Dutch East Indies: Gramophone Records and Radio in the Late Colonial Era 1903-1942 karya Philip Yampolsky dan kunjungi hajimaji.com dan bali1928.net untuk informasi tambahan mengenai rekaman-rekaman bersejarah oleh Beka dan lain-lain di Nusantara. 


Did you know that the record label Beka-Record GmbH of Germany arrived on the shores of Indonesia (previously Dutch East Indies) in 1906? One of the founding father of the label, Henry Bumb came to Batavia on 16 January 1906, accompanied by two recording experts: Willy Bielefeld and Willy Hadert.

Just in two days the parties managed to record plentiful materials that were then released as 32 matrices for gramophone. After World War I, Beka came back to expand their operations in Dutch East Indies, recording kroncong and gamelan including the might and iconic voice of songstress Miss Riboet “Miss Noisy.”

In one year (1926-27) Beka recorded 122 songs by Miss Riboet and in 1928, Beka focused on Bali and recorded many Balinese tabuh ‘gamelan orchestra’ and gending ‘songs’ – aided by Ida Boda (Balinese dance maestro from Kaliungu Denpasar) and Walter Spies (famed German painter whom lived in Bali since 1927).

Further reading: “Music and Media in the Dutch East Indies: Gramophone Records and Radio in the Late Colonial Era 1903-1942” by Philip Yampolsky. Also visit hajimaji.com and bali1928.net for more information of historic recordings by Beka and others in Dutch East Indies during the turn of 20th century.

So now you know!

Did You Know #1

Guardians of the Galaxy: Awesome Mix 1 – Original Soundtrack

Did you know that one of the biggest selling vinyl album of 2017 (based on the listing of Official Charts Company) is Guardians of the Galaxy: Awesome Mix 1 – Original Soundtrack that comes a close second to Ed Sheeran’s Divide.

Containing a mix of timeless tunes such as “O-o-h Child” by Five Stairsteps, “Hooked on a Feeling” by Blue Swede, and “I Want You Back” by The Jackson Five, the album is a must in any collection, particularly for those dumbfounded-chaotic Peter Quill moments.

So now you know!

Image from Wikipedia, fair-use license.